Recent Blog post
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Hujan
malam itu turun dengan sangat deras. Suhu dingin menjalar liar menusuk
kulit-kulit yang tak terlindung oleh tebalnya tembok rumah. Mobil-mobil mewah
melaju kencang di jalan raya. Tak pelak, genangan air turut menyiprat
sekitarnya.
Cipratan
air itu mengenai kulit seorang anak kecil yang duduk jongkok di pinggir jalan
raya, berteduh “sementara” dari derasnya air hujan malam itu. Ya, sementara,
sebelum diusir oleh mereka yang merasa berhak…
“…aku
memang sudah ditakdirkan menjalani kehidupanku sebagai bocah miskin terbuang
yang tidak pernah dianggap ada oleh mereka.” Bocah kecil itu memangkukan
kepalanya di atas tangan. Suaranya terisak.
Kepahlawanan Bocah Terbuang
![]() |
| Ampun bu, jangan marahin aku... |
“Nggak
Gar, kamu pasti bisa melalui semua ini dengan sangat baik. Ibu yakin itu.”
Tiada
balasan dari Tegar. Dia merenungi perkataan ibunya.
“Tegar,
kamu masih di sana?”
“Ya
bu, aku masih di sini kok. Emang kenapa?”
“Kok
nggak ada suaranya?”
“Aku
lagi merenungi nasibku kini Bu…”
“Apa
lagi yang harus direnungi? Bukannya jalan hidupmu kini sudah jelas? Tinggal
kamu siapkan 15 juz itu dengan sebaik-baiknya, maka ijazah akan bisa kamu ambil
dan langsung masuk universitas terbaik yang kamu inginkan. Bukannya kamu mau
kuliah di Jepang?”
Meraih Quran
![]() |
| Ini soal apa sih... |
Ulangan
matematika lagi.
Beh,
kesal sekali. Ingin sekali rasanya kujambak rambut hitamku yang eksotis ini
(ihiiir). Tapi sayang, pesonaku sangat jauh dari yang namanya depresi. Ya, aku
adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Mode adalah segalanya
bagiku. Tapi kini, ahhhh, aku sangat depresi. Aku... pasrah.


