Recent Blog post
Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan
“Ayo tendang bolanya!”
“Sundul, Gan! Sundul!”
“Woi, jangan sampe jatuh, tuh!”
Lingkaran setan dimulai. Begitulah kami menyebutnya. Sebuah istilah yang kedengarannya aneh untuk sekumpulan orang yang melingkar dan berjuggling ria – di dalam kamar. Mereka berempat tersenyum, tertawa, berbahagia bersama merayakan atmosfer euforia “lingkaran setan” yang menyenangkan.
Kenapa kami menyebutnya lingkaran setan? Tanyakan sendiri pada lampu, piring, gelas, kaca, cermin, kaca jam yang menjadi victim “ritual” ini.
Metamorfosa
![]() |
| I hate this face!!! |
Panas
Api
Terbakar
Merah
Musnah
Membara
Hangus
Jeritan
: teriakan
***
Ah, kosakata itu masih saja menggeliat liar meracuni kewarasan pikiranku. Aku bisa gila! Stress dibuatnya! Ah, masa-masa SMP-ku yang indah dirusak, diracuni, dihancur-leburkan oleh kosakata-kosakata yang sangat panas penafsirannya di lubuk jiwaku. Ah…
Euforia Satan
![]() |
| Kotak kehidupanmu... |
Teknik >> Kotak-kotakilah hidupmu...
Penjelasannya seperti ini, kalau misalnya kamu "hidup" sehari itu 12 jam sedangkan kegiatanmu itu ada 3, contohnya main laptop, belajar, dan kerja, maka kotak-kotakilah menjadi 4 jam-4 jam dan jangan lupa ditulis. Nah, tulisan itu adalah suatu peraturan yang kamu buat tapi nggak boleh kamu langgar. Bisa kan?
Selamat mencoba...
Kotak-Kotaki Hidupmu!
![]() |
| Lawan! |
Sudah merupakan tugasnya, nafsu itu menggoda kita, tapi jangan sampai kita kalah ketika fight melawan nafsu. Kita sebagai manusia tangguh harus bisa melawan nafsu. Dengan sekuat tenaga kita, dengan semangat seorang pemuda, dengan dukungan pertolongan dari Allah SWT, kita yakin, kita dapat mengalahkan musuh kita yang bernama nafsu ini sekuat apapun bujukan yang dia lontarkan kepada kita. Kita yakin…
Lawan!
Hujan
malam itu turun dengan sangat deras. Suhu dingin menjalar liar menusuk
kulit-kulit yang tak terlindung oleh tebalnya tembok rumah. Mobil-mobil mewah
melaju kencang di jalan raya. Tak pelak, genangan air turut menyiprat
sekitarnya.
Cipratan
air itu mengenai kulit seorang anak kecil yang duduk jongkok di pinggir jalan
raya, berteduh “sementara” dari derasnya air hujan malam itu. Ya, sementara,
sebelum diusir oleh mereka yang merasa berhak…
“…aku
memang sudah ditakdirkan menjalani kehidupanku sebagai bocah miskin terbuang
yang tidak pernah dianggap ada oleh mereka.” Bocah kecil itu memangkukan
kepalanya di atas tangan. Suaranya terisak.
Kepahlawanan Bocah Terbuang
![]() |
| Ampun bu, jangan marahin aku... |
“Nggak
Gar, kamu pasti bisa melalui semua ini dengan sangat baik. Ibu yakin itu.”
Tiada
balasan dari Tegar. Dia merenungi perkataan ibunya.
“Tegar,
kamu masih di sana?”
“Ya
bu, aku masih di sini kok. Emang kenapa?”
“Kok
nggak ada suaranya?”
“Aku
lagi merenungi nasibku kini Bu…”
“Apa
lagi yang harus direnungi? Bukannya jalan hidupmu kini sudah jelas? Tinggal
kamu siapkan 15 juz itu dengan sebaik-baiknya, maka ijazah akan bisa kamu ambil
dan langsung masuk universitas terbaik yang kamu inginkan. Bukannya kamu mau
kuliah di Jepang?”
Meraih Quran
![]() |
| Ini soal apa sih... |
Ulangan
matematika lagi.
Beh,
kesal sekali. Ingin sekali rasanya kujambak rambut hitamku yang eksotis ini
(ihiiir). Tapi sayang, pesonaku sangat jauh dari yang namanya depresi. Ya, aku
adalah orang yang sangat memperhatikan penampilan. Mode adalah segalanya
bagiku. Tapi kini, ahhhh, aku sangat depresi. Aku... pasrah.






